aku terduduk, terpekur, dan meratap di tengah kesunyian dan peperangan sekaligus.
jerat kekang yang tertancap di seluruh sendi dan paru-paru ku membuat gerak sesenti menjadi sedepa.
aku tak suka keadaan ini.
biasanya aku seperti kuda liar yang berlari melesat mengejar angin.
biasanya aku burung elang yang menolak untuk terbang rendah kecuali untuk menangkap makan siang.
saat ini sesendipun aku tak bisa bergerak.
seperti pahlawan kemerdekaan yang ditodong bedil di kepala.
meracau aku seperti orang mabuk yang tidak bisa berjalan lurus.
patah aku seperti arang yang habis dilalap api.
hanya di nadiku terngiang2 sebuah doa;
"Tuhan, berikan aku;
kepasrahan untuk menerima apa yang tidak bisa aku rubah,
kemampuan untuk merubah apa yang bisa aku rubah,
dan kebijakan untuk membedakan keduanya."
Monday, March 14, 2011
Wednesday, November 24, 2010
this is just the beginning..
"Just give me another chance to prove you that I can change..", he said..
Being able to see inside of me made me see things in different perspective and I fully understand that he saw things in his perspective. Fair enough. I guess we lack of the ability to see inside each other and understand each other's story better.
It felt like every time we try to make the other party to understand our point of view, we are plunging a knife and shredding our own self piece by piece. It felt wrong.
We use to be friends. We use to laugh and ad-libbing each other's jokes.
We use to have fun.
I hate being angry all the time.
I hate being angry at him all the time.
I'm scared that we have to mold our self to be an entirely different person so we'll still be able to walk hand in hand without taking that knife and shredding each other out to pieces.
I'm scared that at the end of this journey, we will look at the mirror and say, "who is this person? This is not me.."
I'd rather walk away with a stamp of a bad guy rather than to change what he is.
Because he have something great.
He is something precious. But he just don't realize it yet.
If I choose to walk away, it's not because I hate him.
But because I love him as a friend and I know that he is capable of doing great things.
Get up from your fall..
I will still be there..
As a friend..
because this is just the beginning.
Being able to see inside of me made me see things in different perspective and I fully understand that he saw things in his perspective. Fair enough. I guess we lack of the ability to see inside each other and understand each other's story better.
It felt like every time we try to make the other party to understand our point of view, we are plunging a knife and shredding our own self piece by piece. It felt wrong.
We use to be friends. We use to laugh and ad-libbing each other's jokes.
We use to have fun.
I hate being angry all the time.
I hate being angry at him all the time.
I'm scared that we have to mold our self to be an entirely different person so we'll still be able to walk hand in hand without taking that knife and shredding each other out to pieces.
I'm scared that at the end of this journey, we will look at the mirror and say, "who is this person? This is not me.."
I'd rather walk away with a stamp of a bad guy rather than to change what he is.
Because he have something great.
He is something precious. But he just don't realize it yet.
If I choose to walk away, it's not because I hate him.
But because I love him as a friend and I know that he is capable of doing great things.
Get up from your fall..
I will still be there..
As a friend..
because this is just the beginning.
Thursday, August 26, 2010
Merah
Bola merah itu terpantul-pantul di lantai marmer yang dingin.
Terpantul dan mendekat ke tanganku yang berjari gemuk-gemuk.
"Aku tidak ingin bermain", kataku setengah malas
"Aku tidak ingin main lempar bola"
"Harus!!", sebuah suara berteriak
"Kamu yang pantulkan bola ini lebih dulu, sekarang kami ingin bermain."
Bola itu terpantul-pantul lagi dengan cepat.
kemudian bola itu terlempar ke kepalaku.
"mainkan dengan cepat!!!", "lempar bola itu kemari!!!"
Perintah dan permintaan bersahutan secepat sepersekian detik.
Laju merah bergerak kian cepat.
seperti pita yang di gerakkan pesenam olimpik di angkasa.
Merah yang menyala.
mengingatkanku pada darah yang menetes dari luka yang terbuka.
"Ayo bermain.. Ayo bermain.."
Kalimat itu berulang-ulang terdengar di telingaku.
Seperti kaset rusak yang tidak dapat dibetulkan lagi.
"Ayo bermain.. Ayo bermain.."
Terpantul dan mendekat ke tanganku yang berjari gemuk-gemuk.
"Aku tidak ingin bermain", kataku setengah malas
"Aku tidak ingin main lempar bola"
"Harus!!", sebuah suara berteriak
"Kamu yang pantulkan bola ini lebih dulu, sekarang kami ingin bermain."
Bola itu terpantul-pantul lagi dengan cepat.
kemudian bola itu terlempar ke kepalaku.
"mainkan dengan cepat!!!", "lempar bola itu kemari!!!"
Perintah dan permintaan bersahutan secepat sepersekian detik.
Laju merah bergerak kian cepat.
seperti pita yang di gerakkan pesenam olimpik di angkasa.
Merah yang menyala.
mengingatkanku pada darah yang menetes dari luka yang terbuka.
"Ayo bermain.. Ayo bermain.."
Kalimat itu berulang-ulang terdengar di telingaku.
Seperti kaset rusak yang tidak dapat dibetulkan lagi.
"Ayo bermain.. Ayo bermain.."
Monday, May 3, 2010
Simpul
Terduduk aku di depan sebuntal benang
mencoba mencari ujung pangkal yang terputus untuk memulai telusur
perlahan mengikuti jejak benang yang mengusut, aku memaki..
"Susah amat sih ini!!!"
Berusaha mengingat masa bermain sebagai seorang Pramuka,
yang dapat kuingat hanya tepuk-tepuk yang berirama dan tongkat yang kami pakai untuk bermain perang.
aku merasa simpul ini terlalu sulit untuk dibuka.
"Gunting sajalah.."
Seseorang berteriak dari samping.
"Tak ada gunanya lagi di telusuri. Sulit itu.."
"Nanti..", kataku..
Terangsang otakku untuk menyelesaikan puzzle ini.
"Ini mungkin bisa di.."
bergerak jariku mencoba melepaskan satu buntal besar benang kusut.
"Sudah jangan dipaksakan.."
Sebuah gunting disodorkan seseorang padaku.
"Sebentar.. Ini bisa dibuka kesini.."
Gunting itu memanggil-manggil di sisi pundakku.
Bersikeras membuka simpul-simpul kusut, aku berkelahi dengan diriku sendiri.
"Gunting.."
"Tunggu, ini masih bisa di.."
"Gunting saja.."
"Tapi ini bisa di.."
Pusing dengan tengkar dalam kepalaku sendiri aku berhenti.
Kulempar buntalan itu sambil memaki,
"Sial.. Biarlah.. Bikin susah hati saja.."
dan aku melangkah pergi.
mencoba mencari ujung pangkal yang terputus untuk memulai telusur
perlahan mengikuti jejak benang yang mengusut, aku memaki..
"Susah amat sih ini!!!"
Berusaha mengingat masa bermain sebagai seorang Pramuka,
yang dapat kuingat hanya tepuk-tepuk yang berirama dan tongkat yang kami pakai untuk bermain perang.
aku merasa simpul ini terlalu sulit untuk dibuka.
"Gunting sajalah.."
Seseorang berteriak dari samping.
"Tak ada gunanya lagi di telusuri. Sulit itu.."
"Nanti..", kataku..
Terangsang otakku untuk menyelesaikan puzzle ini.
"Ini mungkin bisa di.."
bergerak jariku mencoba melepaskan satu buntal besar benang kusut.
"Sudah jangan dipaksakan.."
Sebuah gunting disodorkan seseorang padaku.
"Sebentar.. Ini bisa dibuka kesini.."
Gunting itu memanggil-manggil di sisi pundakku.
Bersikeras membuka simpul-simpul kusut, aku berkelahi dengan diriku sendiri.
"Gunting.."
"Tunggu, ini masih bisa di.."
"Gunting saja.."
"Tapi ini bisa di.."
Pusing dengan tengkar dalam kepalaku sendiri aku berhenti.
Kulempar buntalan itu sambil memaki,
"Sial.. Biarlah.. Bikin susah hati saja.."
dan aku melangkah pergi.
Wednesday, April 7, 2010
Clash of the Titans Night
Setumpuk penuh barang2ku tergeletak di meja berhiaskan keramik biru putih dibawah blok 159.
Aku dan dia terduduk menunggu..
Menunggu rokok terbakar habis,
Menunggu pukul 2 pagi tiba,
Menunggu perkataan tergetar dari pita suaraku..
Bunyi teratur di imajinasi kami kian mengeras..
Aku berkata pada diri sendiri,
Detak jantung kah? Atau ini detik waktu yang terasa terlalu cepat?
Beberapa hari ini matahari dan bulan seperti berlari sprint di langit.
Seketika terang, sesaat kemudian bintang.
Pertama kalinya aku mengetik kata2 ini ditemani orang lain selain egoku.
Janggal.
Bukan karena dia muncul kembali,
tapi karena kami sibuk dengan hal2 di belakang kepala kami masing2.
Detak itu masih berbunyi.
Waktu masih terus berjalan.
Kami,
masih menunggu.
Aku dan dia terduduk menunggu..
Menunggu rokok terbakar habis,
Menunggu pukul 2 pagi tiba,
Menunggu perkataan tergetar dari pita suaraku..
Bunyi teratur di imajinasi kami kian mengeras..
Aku berkata pada diri sendiri,
Detak jantung kah? Atau ini detik waktu yang terasa terlalu cepat?
Beberapa hari ini matahari dan bulan seperti berlari sprint di langit.
Seketika terang, sesaat kemudian bintang.
Pertama kalinya aku mengetik kata2 ini ditemani orang lain selain egoku.
Janggal.
Bukan karena dia muncul kembali,
tapi karena kami sibuk dengan hal2 di belakang kepala kami masing2.
Detak itu masih berbunyi.
Waktu masih terus berjalan.
Kami,
masih menunggu.
Thursday, February 11, 2010
Changi 12 februari 2010
Menatap notebook ku, aku menanti terbukanya gerbang D36
berharap perjalanan ini bisa menjadi perjalanan yang tanpa guncangan
berharap perjalanan ini bisa menjadi infus bagi nyawaku yang hampir terputus
Tempat yg akan kudatangi adalah yang kusebut rumah
Seluruh sel dalam tubuh dan mentalku tumbuh disana
Aromanya setiap sudutnya akan selalu tersangkut hidungku
Takaran suhunya akan selalu menjadi selimut yang paling nyaman untukku
Apa yang akan aku temukan disana akan menarik
Menantang sampai dimana aku bisa lentur memainkan emosi
Tapi saat ini aku hanya bisa meraba dan mengira2
Tak ada yg pasti di ruang celebralku
Kusut aku mencoba menguraikan pikiran
Bunyi ketik2 keyboard laptopku tidak membantu
Pengumuman untuk boarding bergema dalam bahasa asing yg familiar dikupingku
Waktunya terbang..
berharap perjalanan ini bisa menjadi perjalanan yang tanpa guncangan
berharap perjalanan ini bisa menjadi infus bagi nyawaku yang hampir terputus
Tempat yg akan kudatangi adalah yang kusebut rumah
Seluruh sel dalam tubuh dan mentalku tumbuh disana
Aromanya setiap sudutnya akan selalu tersangkut hidungku
Takaran suhunya akan selalu menjadi selimut yang paling nyaman untukku
Apa yang akan aku temukan disana akan menarik
Menantang sampai dimana aku bisa lentur memainkan emosi
Tapi saat ini aku hanya bisa meraba dan mengira2
Tak ada yg pasti di ruang celebralku
Kusut aku mencoba menguraikan pikiran
Bunyi ketik2 keyboard laptopku tidak membantu
Pengumuman untuk boarding bergema dalam bahasa asing yg familiar dikupingku
Waktunya terbang..
Saat ini
Saat ini kehidupan menyeretku dengan paksa
Aku berlari tanpa bergerak dari tempatku berdiri
Terantuk-antuk kepalaku, terhantam segala rupa
Tersendat nafasku berusaha menangkap udara
Ku temukan diriku berdiri d tengah sahara,
Kemudian di ramainya Colosseum Roma.
Tetiba aku di jalanan London yg sepi dan berkabut
Selangkah aku tertunduk diantara sekawanan pinguin raja
Ketika matahari di atas kepala aku berada diantara penonton Nascar
berteriak keras dan ikut melambai dengan tempo teratur
Ketika matahari di kiri aku ditengah premier film independen
berusaha menangkap makna dalam kata-kata asing yang menghujam telinga
Aku bagaikan Einstein yang menemukan teori relativitas
Sedetik kemudian aku bagaikan amoeba
Aku ada
kemudian aku tiada
Terjaga aku setengah membuka mata
Menyeret lagi diriku ke Jakartaku yang penuh polusi
Membaringkan diriku ke ranjangku yang tak berseprai
Menghirup kembali aroma kamarku yang mengakar di ingatan
Segalanya kembali tenang
Segalanya kembali statis
Segalanya kembali abu-abu
Aku berlari tanpa bergerak dari tempatku berdiri
Terantuk-antuk kepalaku, terhantam segala rupa
Tersendat nafasku berusaha menangkap udara
Ku temukan diriku berdiri d tengah sahara,
Kemudian di ramainya Colosseum Roma.
Tetiba aku di jalanan London yg sepi dan berkabut
Selangkah aku tertunduk diantara sekawanan pinguin raja
Ketika matahari di atas kepala aku berada diantara penonton Nascar
berteriak keras dan ikut melambai dengan tempo teratur
Ketika matahari di kiri aku ditengah premier film independen
berusaha menangkap makna dalam kata-kata asing yang menghujam telinga
Aku bagaikan Einstein yang menemukan teori relativitas
Sedetik kemudian aku bagaikan amoeba
Aku ada
kemudian aku tiada
Terjaga aku setengah membuka mata
Menyeret lagi diriku ke Jakartaku yang penuh polusi
Membaringkan diriku ke ranjangku yang tak berseprai
Menghirup kembali aroma kamarku yang mengakar di ingatan
Segalanya kembali tenang
Segalanya kembali statis
Segalanya kembali abu-abu
Subscribe to:
Posts (Atom)