Thursday, August 26, 2010

Merah

Bola merah itu terpantul-pantul di lantai marmer yang dingin.
Terpantul dan mendekat ke tanganku yang berjari gemuk-gemuk.

"Aku tidak ingin bermain", kataku setengah malas
"Aku tidak ingin main lempar bola"
"Harus!!", sebuah suara berteriak
"Kamu yang pantulkan bola ini lebih dulu, sekarang kami ingin bermain."

Bola itu terpantul-pantul lagi dengan cepat.
kemudian bola itu terlempar ke kepalaku.
"mainkan dengan cepat!!!", "lempar bola itu kemari!!!"
Perintah dan permintaan bersahutan secepat sepersekian detik.

Laju merah bergerak kian cepat.
seperti pita yang di gerakkan pesenam olimpik di angkasa.
Merah yang menyala.
mengingatkanku pada darah yang menetes dari luka yang terbuka.

"Ayo bermain.. Ayo bermain.."
Kalimat itu berulang-ulang terdengar di telingaku.
Seperti kaset rusak yang tidak dapat dibetulkan lagi.
"Ayo bermain.. Ayo bermain.."

Monday, May 3, 2010

Simpul

Terduduk aku di depan sebuntal benang
mencoba mencari ujung pangkal yang terputus untuk memulai telusur
perlahan mengikuti jejak benang yang mengusut, aku memaki..
"Susah amat sih ini!!!"

Berusaha mengingat masa bermain sebagai seorang Pramuka,
yang dapat kuingat hanya tepuk-tepuk yang berirama dan tongkat yang kami pakai untuk bermain perang.
aku merasa simpul ini terlalu sulit untuk dibuka.

"Gunting sajalah.."
Seseorang berteriak dari samping.
"Tak ada gunanya lagi di telusuri. Sulit itu.."

"Nanti..", kataku..
Terangsang otakku untuk menyelesaikan puzzle ini.
"Ini mungkin bisa di.."
bergerak jariku mencoba melepaskan satu buntal besar benang kusut.

"Sudah jangan dipaksakan.."
Sebuah gunting disodorkan seseorang padaku.
"Sebentar.. Ini bisa dibuka kesini.."
Gunting itu memanggil-manggil di sisi pundakku.

Bersikeras membuka simpul-simpul kusut, aku berkelahi dengan diriku sendiri.
"Gunting.."
"Tunggu, ini masih bisa di.."
"Gunting saja.."
"Tapi ini bisa di.."

Pusing dengan tengkar dalam kepalaku sendiri aku berhenti.
Kulempar buntalan itu sambil memaki,
"Sial.. Biarlah.. Bikin susah hati saja.."
dan aku melangkah pergi.

Wednesday, April 7, 2010

Clash of the Titans Night

Setumpuk penuh barang2ku tergeletak di meja berhiaskan keramik biru putih dibawah blok 159.
Aku dan dia terduduk menunggu..
Menunggu rokok terbakar habis,
Menunggu pukul 2 pagi tiba,
Menunggu perkataan tergetar dari pita suaraku..

Bunyi teratur di imajinasi kami kian mengeras..
Aku berkata pada diri sendiri,
Detak jantung kah? Atau ini detik waktu yang terasa terlalu cepat?
Beberapa hari ini matahari dan bulan seperti berlari sprint di langit.
Seketika terang, sesaat kemudian bintang.

Pertama kalinya aku mengetik kata2 ini ditemani orang lain selain egoku.
Janggal.
Bukan karena dia muncul kembali,
tapi karena kami sibuk dengan hal2 di belakang kepala kami masing2.

Detak itu masih berbunyi.
Waktu masih terus berjalan.
Kami,
masih menunggu.

Thursday, February 11, 2010

Changi 12 februari 2010

Menatap notebook ku, aku menanti terbukanya gerbang D36
berharap perjalanan ini bisa menjadi perjalanan yang tanpa guncangan
berharap perjalanan ini bisa menjadi infus bagi nyawaku yang hampir terputus

Tempat yg akan kudatangi adalah yang kusebut rumah
Seluruh sel dalam tubuh dan mentalku tumbuh disana
Aromanya setiap sudutnya akan selalu tersangkut hidungku
Takaran suhunya akan selalu menjadi selimut yang paling nyaman untukku

Apa yang akan aku temukan disana akan menarik
Menantang sampai dimana aku bisa lentur memainkan emosi
Tapi saat ini aku hanya bisa meraba dan mengira2
Tak ada yg pasti di ruang celebralku

Kusut aku mencoba menguraikan pikiran
Bunyi ketik2 keyboard laptopku tidak membantu
Pengumuman untuk boarding bergema dalam bahasa asing yg familiar dikupingku
Waktunya terbang..

Saat ini

Saat ini kehidupan menyeretku dengan paksa
Aku berlari tanpa bergerak dari tempatku berdiri
Terantuk-antuk kepalaku, terhantam segala rupa
Tersendat nafasku berusaha menangkap udara

Ku temukan diriku berdiri d tengah sahara,
Kemudian di ramainya Colosseum Roma.
Tetiba aku di jalanan London yg sepi dan berkabut
Selangkah aku tertunduk diantara sekawanan pinguin raja

Ketika matahari di atas kepala aku berada diantara penonton Nascar
berteriak keras dan ikut melambai dengan tempo teratur
Ketika matahari di kiri aku ditengah premier film independen
berusaha menangkap makna dalam kata-kata asing yang menghujam telinga

Aku bagaikan Einstein yang menemukan teori relativitas
Sedetik kemudian aku bagaikan amoeba
Aku ada
kemudian aku tiada

Terjaga aku setengah membuka mata
Menyeret lagi diriku ke Jakartaku yang penuh polusi
Membaringkan diriku ke ranjangku yang tak berseprai
Menghirup kembali aroma kamarku yang mengakar di ingatan

Segalanya kembali tenang
Segalanya kembali statis
Segalanya kembali abu-abu

Wednesday, February 10, 2010

4.49

aku terbangun..
percik oranye itu tidak akan berpijar lagi..
sebagian jiwaku hangus bersama percik terakhirnya..
Sekali lagi aku menangis. Kali ini dengan segukan.
Tertumpah segala nafas yg ada dalam diafragma ku. Tak bersisa.

Akalku melayang mencoba untuk menggapai suatu pencerahan.
Melihat kebelakang smua gelap. Aku tidak melihat dimana aku salah berbelok.
Mungkin terlalu jauh aku salah menjejakkan kaki.
Mungkin dari awal perjalanan harusnya aku tidak berpijak di jalan ini.

Dengan alibi, aku mencoba membelokkan alur ku..
Aku hanya terseret. Aku korban.
Kepalaku terantuk lantai yang keras.
Percik itu sudah menghilang.
Semua kembali statis.
Semua kembali abu2.

Jam 3 pagi..

Gelap pekat ruang mengikat jalan darahku
Pucat, aku berjalan dengan tangan terentang mencari arah. Udara berat menggantung di auraku nyaris meledakkan paru-paru mungilku.

Disudut kecil terlihat percik oranye. Asap mengakar ke udara menyebarkan harum halus yang menenangkan syaraf. Efeknya seperti opium, menarik imajiku ke arah dimensi baru yang berwarna. Dimensi yang berkelip dengan dengan segala keindahan yang menyimpan bahaya.

Tergoda aku berjalan dan mendekat perlahan. Kornea yang tersentuh sensasi asing menyipit, mencoba menelaah serangan percik oranye yang makin lama membersar perlahan.

Tak terasa letih pupil yang membesar kagum.
Aku berjongkok menunggu sesuatu. Sesuatu yang masih abstrak.
Terlalu abstrak sehingga aku takut menebak arahnya. Tapi kuberanikan diri mendekatkan jemari untuk menyentuhnya.

Jariku terdiam disana. Terbakar percik oranye yang mulai membesar, aku menjadi seorang masochist yang menikmati perih yang terasa di ikatan syarafku.
Aku menyerahkan diri untuk perlahan dilahap oleh siluet jingga yang menguat.

Tanpa kusadari aku menari didalam cahaya jingga. dalam trance yang statik aku menggerakkan seluruh badanku. Aku tersenyum, tertawa. Aku bergerak mendayu seperti daun yang berdansa dengan angin. Berputar. Melayang. Aku bagai pebalet cilik yang tersihir oleh tutu dan sepatu balet barunya.

Tanpa sebab kilat jingga itu berubah. Perlahan mengecil dan meredup.
"Tidak!", pikirku. "Bakar aku lagi. Aku belum puas dengan sengatan ini!"
Perlahan aku terdorong keluar dari selimut jingga disekujur tubuhku.
Dimuntahkan dengan perlahan, aku terdiam bisu disamping cercah sinar yang sekarang samar.
Aku meraih sinar kecil itu, kalap. "Itu sumber udaraku!"

Cercah sinar itu tak menunggu.
Perlahan dia melemah menjadi letupan kecil yang hanya ada dipermukaan.
Aku meratap sedih tanpa airmata dan segukan. Berusaha melindungi letupan yang tersisa agar dia bisa membesar kembali.

Gelap pekat ruang mengikat syarafku.
Memucat, aku berjongkok memeluk lututku. Tatapku menerawang ke lantai tempat letupan terakhir meletus.
Diam; aku menunggu percikan selanjutnya.